Kendati demikian, kasus terjadinya pembunuhan ini bukan karena faktor asmara tersebut. Tetapi lebih karena imbalan Rp100.000 yang tidak diberikan oleh pelaku. “Bukan binis. Sebab, mereka ini saling suka. Ya, istilahnya matre,” katanya.
Setiap kali berhubungan, korban lebih sering berperan sebagai laki-laki. "Kalau dengan AS, korban jadi laki-lakinya. Tetapi, menurut keterangan saksi lain, kadang dia (korban) juga jadi perempuannya. Apa saja bisa,” katanya.
Sementara itu, polisi masih terus mendalami ada tidaknya unsur perencanaan dalam kasus pembunuhan ini. Hal itu menjadi penting untuk menentukan pasal yang akan dijeratkan kepada para pelaku.
“Kalau berdasarkan keterangan pelaku, pembunuhan ini spontan, bukan berencana. Tetapi, ini masih kami dalami. Misalnya, apakah kedatangan korban ke warung (TKP pembunuhan) karena kemauan sendiri atau atas permintaan pelaku. Semua masih dikaji,” katanya.