Kedua, Puti Guntur Sukarno. Cucu Bung Karno ini punya kans besar karena terpilih dengan 139.794 suara di Dapil DPR Jatim 1 (Surabaya-Sidoarjo) pada Pemilu Legislatif April lalu. Apalagi, Puti adalah keponakan Megawati Soekarno Putri.
Menurut Didik, peluang Puti menjadi besar bila PDIP ingin meneruskan tradisi wali kota Perempuan. “Mbak Puti merupakan kandidat yang bisa menjadi kejutan,” ucapnya.
Ketiga, Armudji. Ketua DPRD Kota Surabaya ini terpilih dengan 136.308 suara di DPRD Jatim Dapil Jatim I (Surabaya). Perolehan itu tertinggi di Dapil Jatim I. “Pengalaman dan kemampuan elektoral menjadi daya tawar Armudji,” kata Didik.
Keempat, Mochamad Nur Arifin. Kandidat ini akan muncul jika DPP PDIP mempertimbangkan usia sebagai faktor dalam merebut elektoral. “Bupati Trenggalek ini dikenal dekat dengan elite DPP, berpeluang menjadi kandidat alternatif bila terjadi kebuntuan pada nama-nama yang beredar,” ujarnya.
Sedangkan dari unsur birokrat adalah Hendro Gunawan dan Eri Cahyadi. Selain dikenal dekat dengan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, keduanya juga cukup menonjol di Pemkot Surabaya. “Bila DPP PDIP mempertimbangkan rekam jejak Risma yang sebelumnya juga birokrat, Hendro dan Eri akan menjadi alternatif,” kata Didik.
Siapa pun itu, menurut Didik, calon yang diusung PDIP punya kans besar. Apalagi, sejak periode Bambang DH hingga Tri Rismaharini, PDIP selalu menjadi pemenang. Raihan ini pula, kata Didik, yang menjadikan Surabaya lekat dipersepsikan sebagai “kandang banteng”.