Karena itu, pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan Provinsi Jatim. Harapannya, seluruh warga tersebut tertangani dengan baik, apakah mereka dipulangkan atau juga tetap bertahan di Papua. “Terpenting, ada jaminan keamanan untuk mereka,” katanya.
Bunardi menjelaskan, warga Pasuruan yang merantau ke Wamena Papua umumnya membuka toko kelontong. Namun, beberapa di antara mereka juga ada yang menjadi tukang ojek dan pekerja serabutan lainnya. “Mereka cukup lama di sana. Ada yang lima tahun, tujuh tahun, bahkan 10 tahun,” katanya.
Selama ini mereka rutin pulang setiap tahun. Kalaupun tidak pulang, mereka mengirimkan uang ke keluarganya di Pasuruan untuk dibelikan aset. “Cukup berhasil. Karena itu, banyak warga yang tertarik dan ikut merantau ke sana,” katanya.
Diketahui dua orang warga Jatim tewas saat kerusuhan di Wamena, Papua, beberapa waktu lalu. Masing-masing bernama Untung Edy Cahyono (45) dan Syaiful Mukmin (47), warga Desa Kedawang, Kecamatan Nguling.