BANGKALAN, iNews.id – Potret buram dunia pendidikan di Indonesia masih dengan mudah ditemukan di berbagai pelosok negeri. Salah satu kondisi paling memprihatinkan terlihat jelas di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tlomar 2, Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur.
Jangankan lantai cor semen atau keramik, setiap ruangan kelas di sekolah ini hanya beralaskan tanah liat dan dipenuhi kerikil. Saking hancurnya fasilitas bangunan, warga sekitar bahkan menyebut gedung sekolah tersebut lebih mirip seperti kandang sapi ketimbang tempat menuntut ilmu.
Dari tiga ruang kelas yang dimiliki oleh SDN Tlomar 2, saat ini satu ruangan dilaporkan sudah rusak parah dan sama sekali tidak bisa ditempati lagi karena dinilai terlalu berbahaya.
Kondisi sisa ruangan lainnya pun tidak kalah memprihatinkan. Demi tetap bisa melangsungkan kegiatan belajar, dua ruangan yang tersisa terpaksa disekat ala kadarnya menggunakan dinding-dinding triplek kusam.
Kusen-kusen jendela dan pintu di setiap ruangan sudah mulai lapuk dimakan usia. Bagian plafon atap juga banyak yang jebol dan rawan runtuh menimpa siswa.
Papan tulis terpaksa diletakkan begitu saja di atas lantai tanah. Meja dan bangku belajar pun sudah banyak yang reot, hingga sebagian harus dipaku ulang oleh para guru agar tidak ambruk.
Akibat sarana dan prasarana yang jauh dari kata layak dan aman ini, SDN Tlomar 2 terus kehilangan murid dari tahun ke tahun. Banyak orang tua yang memindahkan anak-anak mereka ke sekolah lain yang fasilitasnya lebih memadai.
Saat ini, total murid yang bertahan di sekolah ini hanya tersisa 50 anak. Imbasnya, setiap kelas kini rata-rata hanya diisi oleh 7 hingga 10 siswa saja.
"Belajar di sini enggak enak, kadang di meja-meja banyak debunya dan kotor. Lantainya juga cuma dari tanah dan batu-batuan, jadi enggak nyaman buat belajar karena fasilitasnya begini. Keinginan saya, pengen sekolah ini cepat dibangun pemerintah agar kami bisa belajar dengan nyaman," kata salah seorang siswi SDN Tlomar 2, Zaenab Rosyada, Rabu (17/6/2026).
Pihak sekolah membeberkan bahwa kondisi belajar di tengah keterbatasan ekstrem ini sudah berlangsung selama lebih dari 10 tahun. Mirisnya, pengajuan renovasi yang kerap dilayangkan ke pemerintah daerah selalu mentok karena terganjal masalah administratif.