"Hamimmuddin datang dari Laskar Pangeran Diponegoro, ini menjadi bagian dari laskar yang semburat tercerai berai pasca Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda pada tahun 1930," ujar KH Moensif Nachrawi, ditemui di kediamannya di Jalan Bungkuk.
Dari situlah kemudian KH Hamimmuddin itu memulai aktivitas dakwahnya sebagaimana pesan dari Pangeran Diponegoro yang harus terus menyebarkan agama Islam dimanapun laskarnya berada. Hamimmuddin memulai membuat bangunan kecil berupa gubuk untuk memulai syiar agama islam kepada warga sekitar Singosari saat itu.
"Daerah ini saya bilang masih hutan belantara, dia (KH Hamimmuddin) bikin gubuk karena terbuat dari bambu dari gedek dari daun-daunan kecil, untuk mengajar mengaji dan salat. Bangunan kecil itu dipakai untuk mengajar ngaji di lingkungan orang-orang yang mayoritas Hindu. Memang orang-orang agama Hindu datang jauh lebih dulu di sini, sehingga kerajaan-kerajaan yang ada dulu adalah kerajaan Hindu," katanya.
Menurutnya, saat Islam mulai dikenalkan oleh pengikut Pangeran Diponegoro, agama Hindu-lah yang mendominasi masyarakat yang dianutnya. Maklum, pengaruh Kerajaan Singasari yang runtuh di abad 13 masih sangat terasa.
"Kerajaan Singasari itu di sini dibangun abad 12, punahnya abad 13, dan ini masuk abad 18. Jadi artinya sudah sekitar lima ratusan tahun kemudian," kata dia.