Tetapi diusahakan untuk dapat mempengaruhi sedikit demi sedikit. Serta tut wuri handayani hangiseni artinya mengikuti dari belakang sambil mengisi kepercayaan atau ajaran agama Islam.
Islam abangan yang digagas Sunan Kalijaga ini juga menghindari konfrontasi secara langsung atau secara keras dengan masyarakat di dalam pasal menyiarkan agama Islam itu. Hal ini dimaksudkan berusaha untuk mengambil ikannya, tetapi tidak mengeruhkan airnya sehingga kotor.
Dari sanalah semua itu boleh diubah merubah adat dan kepercayaan masyarakat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Tetapi Sunan Kalijaga menjaga prinsip tidak boleh menghalau masyarakat dari umat islam.
Masyarakat harus mau dan senang atau bersedia datang kepada kita, atau bersedia datang berkumpul mendekati, dan setelah berkumpul barulah masyarakat diajak dan diberi pengertian tentang ajaran Islam, sedikit demi sedikit.
Karena bila tidak dengan jalan demikian, maka mereka akan lari sewaktu diundang. Jangankan mendekat untuk memeluk Islam, mendekat saja mereka tidak mau. Lantas Sunan Kalijaga beranggapan bagaimana bisa memberi pengertian tentang ajaran dan keluhuran atau kebenaran agama islam, sedangkan masyarakat tersebut tak mau mendekat.
Agaknya kedua pendapat itu memang sama-sama dapat dipahami, karena aliran Islam putihan yang digagas Sunan Giri khawatir bila terjadi penyelewengan dalam agama. Di sisi lain, aliran Islam abangan ingin cepat berdakwah dan semua rakyat bisa menerima ajaran Islam. Namun aliran Tuban justru sangat berliku-liku, sementara aliran Sunan Giri cepat melintas jalan lurus.