Menurut Muhyidin, semua korban dia garap di rumahnya, saat situasi sepi. "Siang hari saat istri yasinan dan belanja. Anak saya dolanan (main)," tuturnya.
Selain sebagai guru ngaji di musala, Muhyidin sehari hari banyak berada di warung kecil miliknya. Warung yang berjualan jajanan dan minuman tersebut berlokasi menjadi satu dengan rumahnya.
Semua korban Muhyidin merupakan anak anak yang tengah berbelanja di warungnya. Muhyidin memakai modus tidak segera memberikan uang kembali. Saat menunggu kembalian, korban diajaknya masuk ke dalam rumah. Muhyidin memulai dengan meraba raba, yang kemudian berakhir dengan pencabulan.
"Saya tidak pernah memaksa," katanya.
Ironisnya, nafsu bejat itu selalu disalurkan di tempat salat yang hanya tersekat dinding warung. Dia beralasan lokasi tersebut paling dekat dengan kulkas, tempat dirinya menyimpan minuman es. Sebagai imbalannya, MHY mengaku menggratiskan jajanan yang dibeli korban.
"Ada yang digratiskan. Seribu atau dua ribu," paparnya. MHY juga mengatakan, selain bernafsu tinggi, aksinya mencabuli anak anak karena kerap tidak bisa menyalurkan hasrat kepada istrinya. Istri yang telah memberinya dua anak, kata Muhyidin selalu menolak saat dirinya meminta jatah.