Kisah Perwira Jepang, Sedih dan Mabuk-Mabukan di Depan Soekarno Usai Kalah Perang

Solichan Arif
Soekarno makan sahur di kediaman Laksamana Maeda. (Foto IG PDIP).

"Para perwira Jepang mustahil mau menyinggung tentang menyerah kalahnya mereka dan bersama-sama dengan itu melibatkan diri membantu persiapan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Lagi pula, mereka terikat perintah status quo dari Sekutu," tulis Nakatani.

Pada malam jelang 17 Agustus 1945 itu terjadi perdebatan keras antara pihak Indonesia dan Jepang. Pihak Indonesia usul sidang PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dilaksanakan 17 Agustus dan sekaligus ditetapkan kemerdekaan. Usul kedua, deklarasi kemerdekaan dikumandangkan hari berikutnya, yakni 18 Agustus 1945 dan sidang PPKI diundur satu dua hari sesudahnya.

Angkatan Darat Jepang menolak keras sekaligus ingin lepas tangan. Panglima tertinggi Jepang untuk Asia Tenggara Marsekal Terauchi sudah setuju menetapkan kemerdekaan, tapi tidak sebelum 28 Agustus 1945.

"Perintah itu harga mati". 

Pihak Indonesia merasa tidak mendapat jaminan dari Jepang, apakah hingga 28 Agustus 1945 situasi sosial politik, termasuk keamanan tetap terkendali. Sebab jawaban yang disampaikan para perwira angkatan darat Jepang terdengar angin-anginan.

Editor : Ihya Ulumuddin
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Terekam CCTV! 2 Pemuda Mabuk di Makassar Terjun ke Kanal, 1 Hilang Terseret Arus

57 tahun lalu

Kecelakaan Minibus Tabrak Truk di Bangsalsari Jember, 4 Orang Terluka

57 tahun lalu

Kecelakaan Truk Tronton Tabrak Rumah dan Ruko di Lampung Selatan, Sopir Diduga Mabuk

57 tahun lalu

44 Personel Polres Barru Naik Pangkat, 9 Perwira 44 Bintara

57 tahun lalu

4 Pemuda di Mappi Papua Dianiaya Warga gegara Mabuk dan Buat Onar

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal