Hasilnya kesaktian dan karomah Sunan Bonang membuat aliran Sungai Brantas ini bisa dikendalikan oleh putra Sunan Ampel tersebut. Dia menjadikan beberapa daerah di Kediri kekurangan air. Tapi sebagian wilayah lainnya justru mengalami banjir sehingga pertanian masyarakat gagal panen.
Dikepung Ribuan Jin
Saat itu, konon Sunan Bonang mendapat perlawanan dari masyarakat, baik berupa perdebatan maupun pertarungan fisik. Perlawanan ini digerakkan beberapa tokoh yang merupakan bagian dari Kerajaan Kediri.
Di antara lawan Sunan Bonang di Kediri yakni Ki Buto Locaya dan Nyai Plencing, yang merupakan tokoh-tokoh penganut ajaran Bhairawa - Bhairawi di daerah Kediri.
Nyai Plencing merupakan seorang Bhairawi penerus ajaran ilmu Hitam Calon Arang. Adapun Buto Locaya adalah salah satu dari dua abdi dalem Prabu Jayabaya. Nama aslinya adalah Kyai Daha. Raja Jayabaya memiliki dua abdi yaitu Kyai Daha dan Kyai Daka.
Saat Kyai Daha diangkat sebagai patih, namanya berganti menjadi Buta Locaya, sementara Kyai Daka dijadikan senopati perang, dengan nama Tunggul Wulung. Buto Locaya sendiri berasal dari kata Buta atau bodoh, Lo artinya kamu, dan Caya artinya dapat dipercaya. Nama itu berawal ketika Raja Jayabaya telah moksa.