Selanjutnya bumi perdikan di Tarik itu disebut Terang Wulan, yang kemudian berubah menjadi Trowulan. Rimba raya hutan belantara ini segera diubah menjadi desa yang ramai. Desa ini berubah menjadi kota yang disebut Majapahit.
Sebuah nama catatan sejarah bahwa saat itu Raden Wijaya dan keluarganya sedang mendapat cobaan hidup yang pahit. Kebetulan pula, di situ terdapat banyak pohon maja yang jika digigit rasanya pahit. Dari sinilah asal muasal nama Majapahit disematkan.
Di Kidung Panji Wijayakrama, salah seorang Madura menemukan buah maja yang rasanya pahit. Oleh karena itu, permukiman yang didirikan eh Raden Wijaya tersebut diberi nama Majapahit, yang berasal dari buah maja serta rasa pahit, yang berarti Majapahit.
Namun meski telah diberi tanah perdikan oleh Jayakatwang, Raden Wijaya masih menyimpan dendam. Dendam ini karena Jayakatwang menghancurkan kerajaan milik mertuanya, Kerajaan Singasari.
Oleh karena itulah, Raden Wijaya memiliki keinginan merebut kekuasaan yang kini dimiliki Jayakatwang. Tetapi niat Raden Wijaya menguasai wilayah Jayakatwang sebenarnya bukanlah untuk kepentingan pribadi, melainkan mengharap dikembalikannya cita-cita Kertanegara untuk mempersatukan nusantara