Pengiriman pasukan ini membuat pasukan yang tersisa di Singasari sangat sedikit, keamanan pun menjadi riskan bila mendapat serangan dari luar.
Mpu Raganata sang penasehat raja Kertanegara yang juga mahamenteri telah mengingatkan untuk menyisakan pasukan yang banyak di internal Singasari. Sayang nasehat itu tak digubris sang raja. Mpu Raganata juga mengingatkan Kertanegara akan kemungkinan adanya balas dendam Raja Jayakatwang dari Kediri terhadap Kerajaan Singasari.
Tetapi sang raja yang terkenal angkuh dan congkak ini membuat saran Mpu Raganata tak dipertimbangkan. Kertanegara berpendapat Jayakatwang tidak akan memberontak ke Singasari, karena dia berutang budi kepada dirinya raja Singasari.
Apalagi Jayakatwang memiliki hubungan keluarga dengan Kertanegara, yakni saudara sepupu sekaligus ipar dan besannya.
Jayakatwang disebut Kertanegara sebagai bekas pengawal istana Kerajaan Singasari, yang diangkat sebagai Bupati di Gelang-gelang menjadikan hal mustahil melakukan penyerangan dan pemberontakan ke Kertanegara.
Sayang harapan Kertanegara tak sesuai kenyataan, Jayakatwang menyerang ibu kota kerajaan dari utara dan selatan. Sang Raja Kertanegara pun tewas saat tengah mengadukan ritual minum minuman keras (miras). Lengahnya kewaspadaan membuat Kertanegara dijegal oleh lawan-lawan politiknya, salah satu di antaranya Jayakatwang.
Kerajaan Singasari pun musnah tinggal nama, sang raja Kertanegara mati dan didarmakan sebagai candi yang dinamakan Candi Jawi. Konon di Candi Jawi ini pula abu jenazah Raja Singasari Kertanegara disimpan.