“Di sini ada dhe’ remmah kaberreh. Nanti pindah ke Jabar, sampurasun. Pindah ke Medan beda lagi, horas. Pindah ke Sulsel beda lagi, apa kareba. Terus berbeda-beda. Inilah negara kita Indonesia yang dianugerahi Allah berbeda-beda, majemuk, dan beragam. Ini sudah menjadi sunatullah hukum Allah berbeda-beda,” katanya.
Namun, Jokowi menegaskan agar masyarakat yang majemuk ini mensyukuri perbedaan tersebut dan tetap bersatu dan rukun karena persatuan dan kerukunan merupakan aset dan modal terbesar bangsa ini.
Jokowi juga berpesan agar perbedaan pilihan politik tidak menjadikan bangsa ini pecah. Pilpres selalu digelar setiap lima tahun sehingga jangan sampai gara-gara pesta demokrasi itu, sesama saudara sebangsa dan setanah air justru pecah.
“Pilpres beda pilihan enggak apa-apa. Tapi jangan korbankan persaudaraan kita, ukhuwah kita, kerukunan kita. Enggak apa-apa berbeda,” katanya.
Kampanye itu juga dihadiri Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Wali kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin, dan Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari.