Kurang lebih selama 6 tahun, Semaoen kecil tinggal di desa yang dulunya terkenal sebagai 'markas' bagi para begal dan kawanan perampok ini.
Seorang warga Desa Curahmalang, Piyadi (79) sempat menuturkan jika Semaoen memang lahir dan besar di desa tersebut. Menurut Piyadi, kediaman Semaoen berada di samping Gedung Balai Desa. Berjarak kurang lebih sekitar 500 meter dari Stasiun Curahmalang.
"Iya, Semaoen aslinya Curahmalang, dulu rumahnya di dekat Balai Desa Curahmalang. Sekarang tidak ada keluarganya, sudah habis. Rumahnya ditempati orang lain," ujar Piyadi saat ditemui beberapa waktu lalu.
Sayangnya, sejauh ini cerita tentang Semaoen di desa tersebut nyaris tak tersisa. Hampir tidak ada bukti atau pun peninggalan di Desa Curahmalang yang menunjukan masa kecil tokoh Sarekat Islam (SI) itu pernah tinggal di sana. Rumah yang konon merupakan tempat tinggal Semaoen juga sudah milik orang lain.
"Mohon maaf, kami tidak pernah mengetahui tentang Pak Semaoen. Tahun lalu ada jurnalis ke sini, dari itu kemudian saya minta untuk dicarikan informasinya, tapi memang tidak menemukan sampai saat ini," kata Kepala Desa (Kades) Curahmalang Eni Sulchiyatin saat ditemui di kantornya, pekan lalu.