Menurutnya, selama jadi warga binaan satu hal yang membuat dia merasa kehilangan dan tak ada apa-apa layaknya telah meninggal dunia, yakni ketidakhadiran keluarga di sisinya. Kondisi di dalam Lapas yang terbatas berinteraksi dengan orang di luar, termasuk keluarga menjadi sebuah hal yang ingin dicapainya ketika suatu saat nanti bebas. Apalagi Ramadan ini merupakan tahun ketiganya dia berada di dalam Lapas dan berpisah dengan keluarga.
"Seperti ibaratnya saya ini orang yang sudah mati. Kalau sudah mati berarti yang kita harapkan doa dari keluarga. Jadi sebenarnya penjara ini mengingatkan kita kepada hari kematian dan juga hari-hari akhir kita," kata mantan anggota Komisi B DPRD Kota Malang tersebut.
"Itu pelajaran yang saya petik hikmahnya dari dalam penjara ini. Memang dunia ini hanya sementara, yang kekal nanti di akhirat, kalau tidak ada jengukan rasanya kok nggak ada jengukan. Pikiran saya anak saya kenapa, suami saya kemana, tapi kalau ada jengukan misalnya, Alhamdulillah ada makanan kita makan bareng-bareng satu kamar, kita berbagi bersama makan bersama," tuturnya.
Kini di dalam Lapas perempuan selama Ramadan ini, dia kian memperdalam ilmu agama. Setiap harinya tak kurang 4 jam dia habiskan untuk tadarus Alquran dan membaca artinya. Selain itu kegiatan seperti buka bersama dengan warga binaan lain, tadarus Alquran hingga ceramah keagamaan dijalaninya.
"Selama kami mengikuti tadarus di lapas ini insyaallah kadang-kadang satu bulan itu kita bisa khatam (Alquran) 20an sampai 30 kali. Alhamdulillah aktivitas yang dilakukan dalam Lapas ini selain bertadarus malam juga kita ada salat Tarawih bersama, berbuka juga ada takjil berbuka bersama," ujarnya.