“Tujuan utamanya memang untuk mengerti perjuangan para pendahulu dalam menuntut ilmu. Kalau mereka tahu perjuangan zaman dahulu, maka anak-anak kita akan berjuang menggapai cita-citanya tanpa kenal putus asa dan mengeluh,” katanya.
Risma menuturkan, ada 860 koleksi berupa buku dan alat peraga pendidikan yang dipajang dalam museum. Mulai dari pendidikan masa lampau sampai masa kini. Benda-benda bersejarah itu dikumpulkan dari berbagai daerah. Bahkan, Pemkot Surabaya melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) juga mencari ke berbagai kota di Indonesia.
“Hunting koleksi dari berbagai daerah. Beberapa dari koleksi itu ada yang kami dapatkan dari Yogyakarta,” tuturnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surabaya Antiek Sugiharti mengungkapkan, proses pengerjaan museum ini kurang lebih sekitar 4-5 bulan. Sebab, pembenahan bangunan kuno ini perlu banyak diskusi dengan tim cagar budaya agar tidak merusak esensi dari bangunan aslinya.
“Perlu ada diskusi mendalam dengan cagar budaya agar bentuk bangunannya tidak berubah,” ujarnya.
Antiek memastikan, Museum Pendidikan akan dibuka setiap hari untuk umum dan tidak dipungut biaya sepeser pun alias gratis.
“Museum ini dibuka untuk umum, setiap hari dari pagi pukul 08.00-16.00 WIB. Masuknya gratis,” katanya.