Saat itu, Belanda hanya membangun bundaran dengan air mancur untuk tempat rekreasi atau sekadar berkumpul para kaum ekspatriat Belanda saat itu. Apalagi kompleks sekitarnya merupakan kompleks para petinggi atau pejabat di zamannya.
"Jadi bouwplan dua ini dibangun kawasan Tugu dan Balai Kota Malang. Awalnya di situ tempatnya para petinggi atau pejabat istilahnya, makanya kelurahannya dinamakan Tumenggungan. Ada salah satu suluk silir, ada kata Tumenggungan, di situ namanya Tumenggung, yang artinya para petinggi," tuturnya.
Namun, saat peperangan mempertahankan kemerdekaan di tahun 1946-1949 dari Belanda pecah, bangunan-bangunan tersebut dibakar oleh para pejuang. Upaya bumihangus ini sengaja dilakukan untuk menghindari agar Kota Malang tidak dikuasai Belanda.
Seluruh bangunan habis dibakar. Beberapa di antaranya yakni Balai Kota Malang, Gedung Sekolah HBS (AMS) yang sekarang menjadi sekolah SMA, kediaman panglima militer Belanda, Hotel Splendid, dan beberapa bangunan villa di sekitar pusat kota dibakar.
Barulah usai rangkaian mempertahankan kemerdekaan dan berhasil mengusir Belanda di agresi militer I dan II, pemerintah Indonesia kembali perlahan-lahan membangun sejumlah bangunan itu, termasuk di antaranya Balai Kota Malang dan bundaran.