Nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila, bagi Hariyono, tidak bisa diterjemahkan hanya pada batasan toleransi sosial semata. Dulu publik memandang Pancasila hanya sebatas saling menghormati dan bertoleransi.
"Tapi untuk membuat maju bangsa tak bisa tanpa ada adanya inovasi dan prestasi. Makanya toleransi harus menjadi basis, tapi juga harus diikuti inovasi dan prestasi," kata Hariyono.
Inovasi dan prestasi memang sudah mulai terlihat. Hariyono mengamati, ada sejumlah masyarakat Pancasila yang mulai menelurkan inovasi.
Salah satunya adalah yang dilakukan oleh pegiat Kampung Karamba di Desa Ditotrunan, Lumajang, Jatim. Di kampung ini, para pegiat kampung tematik melaksanakan dan mengamalkan gotong royong yang merupakan salah satu inspirasi dari Pancasila. Tetapi juga melakukan inovasi yang juga sejalan dengan semangat Pancasila di dalam UUD 1945.
"Masyarakat di kampung ini konsisten selama beberapa tahun terakhir mengamalkan salah satu semangat Pancasila yaitu gotong royong, untuk mengubah kampung mereka yang tadinya kumuh dan tidak produktif, menjadi bersih, asri dan menghasilkan nilai," kata Hariyono.
Masyarakat di kampung tersebut gotong royong memanfaatkan sungai dengan cara dibersihkan, mencegah perilaku buang sampah sembarangan dan mereka membuat karamba. Sehingga, mereka bisa melakukan budi daya ikan. Mereka juga bekerja sama dalam membuat kebun dan budi daya tanaman.
"Mereka juga menularkan semangat gotong royongnya ini kepada pegiat kampung tematik lainnya. Tidak hanya di Lumajang, tetapi juga di kampung dari kabupaten/kota lainnya seperti Pasuruan, Probolinggo, dan Malang," kata Hariyono.