"Ternyata di SDN 1 Jenggolo, di depan Bendungan Sengguruh. Jadi pada saat di parkiran, anak saya diseret tiga atau empat siswa lain, kurang jelas. Yang jelas diseret ke Bendungan Sengguruh di depan sekolah, dianiaya di situ. Ditendang kepalanya, dadanya, sempat sesak napas," ujar Edi, Rabu (23/11/2022).
Setelah dianiaya, anaknya ditinggal seorang diri di Bendungan Sengguruh. Karena anaknya tak berani menyeberang, hingga akhirnya ditemukan pencari rumput. Dia lalu dibantu diseberangkan untuk kembali ke sekolah mengambil sepeda dan pulang ke rumah.
"Sampai rumah itu menangis, sepadanya dilempar. Tapi tidak berani bilang ke orang tua. Hari Sabtu tidak masuk. Saya tinggal kerja, kemudian dia muntah tidak berhenti-berhenti. Sama kepalanya pusing," ujarnya.
Dia pun sempat berpikir itu karena efek sakit tipusnya yang kambuh. Kemudian anaknya dibawa ke bidan langganan dan dikasih obat, hingga akhirnya satu dua hari mualnya reda.
"Tapi masih pusing. Kemudian tiga hari kemudian pusingnya tidak tertolong, tidak panas. Kemudian langsung kejang. Kita bingung, ini dari lihat seperti orang kesurupan tapi bukan, tapi muntah terus," katanya.
Hasil pemeriksaan rontgen di rumah sakit Ramdani Husada Jatikerto, Kromengan, terdapat memar di bagian dada dan kepala bagian belakang. Bahkan kalau dipegang anaknya mengaku sakit nyeri.
"Besok paginya. Jadi malam masih di rumah. Waktu kejang itu langsung, paginya ke (RS) Ramdani. Kalau luka tidak ada, tapi hasil rontgen ada di dada, sama kepalanya benjol, kalau dipegang sakit yang belakang," ucapnya.