Mesku begitu, warga setempat tidak lantas berpuas diri. Taman Pendidikan Mangrove tersebut lalu dikembangkan ke program Taman Wisata Laut Labuhan. Program ini berfokus pada konservasi dan transplantasi terumbu karang pada 2017.
Menurut Sahril, salah satu penyebab terumbu karang dulu rusak karena alat tangkap ikan tidak ramah lingkungan. "Tapi sekarang dengan adanya pengawasan, termasuk dari masyarakat, semakin minim (penggunaan alat itu). Kami turut mengedukasi masyarakat pentingnya terumbu karang," katanya.
Sejak 2017 hingga 2021, telah ditanam 877 fragmen karang yang dikelola Kelompok Sadar Wisata Payung Kuning. Ada dua titik transplantasi terumbu karang, yakni di Pulau Ajaib dengan kedalaman lima meter dan Taman Wisata Laut Terumbu Karang. Selain berfungsi sebagai rumah ikan, menurut Sahril, terumbu karang itu dimanfaatkan nelayan untuk mencari cumi-cumi.
"Dengan kembalinya terumbu karang, maka desa tersebut kini menjadi desa wisata edukasi, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat," ujar Sahril.
Laki-laki yang kini bergiat sebagai aktivis lingkungan pesisir ini mengatakan, terumbu karang tersebut merupakan bagian dari konsep One Belt One Road (OBOR) Pariwisata di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, yang disodorkan PHE WMO sebagai peta menuju kesejahteraan masyarakat.