Saat terjadi peristiwa G30S, Pak Nin sudah bekerja di Jakarta. Tragedi itu rupanya mempengaruhi pekerjaanya di Jakarta. Pak Min pun pulang ke Solo bekerja di Dinas Pekerjaan Umum (DPU). Namun, karena gaji pegawai negeri sipil (PNS) saat itu kecil, dia pun banting setir ke dunia usaha.
Tahun 1970an, Pak Min menekuni usaha berjualan lampu semprong, dari situ lah dia akrab disapa Mbah Semprong. Tetapi, lagi-lagi lampu semprong mulai meredup tergantikan dengan lampu PLN. Dia pun memutuskan untuk menarik becak dan berjualan mainan hasil buatan sendiri.
"Bisnis itu saya banyak, sesulit apapun saya harus mampu," ucapnya.
Meski sudah tak lagi muda, semangat Mbah Semprong mencari nafkah tetap membara. Di mata rekan-rekanya sesama pedagang kaki lima, Mbah Semprong merupakan sosok yang inspiratif yang tidak kalah dengan anak muda.
"Dia (Mbah Semprong) itu semangatnya sudah kaya anak muda. Misalnya di alun-alun ada acara ya dia ikut. Kadang sampai jam 10.00 atau jam 11.00," kata rekan Mbah Semprong, Purwanto.