SOLO, iNews.id - Seorang pejuang kemerdekaan Indonesia yang dulu bertugas menjadi mata-mata untuk mengawasi pergerakan Belanda, kini masih harus berjuang. Bedanya kali ini dia berjuang menjajakan mainan anak-anak untuk menyambung hidup.
Ditemui tim iNews, Ngatimin Citrowiyono, kakek yang usianya sudah mencapai 87 tahun ini sedang membereskan barang dagangannya. Kakek yang akrab dipanggil Mbah Semprong ini dulunya seorang mata-mata.
Diketahui Pak Min lahir tahun 1933 di Colomadu, Kranganyar, sebelumnya ayahnya meninggal karena tertembak pasukan Belanda saat berperang. Saat muda, dia ikut berperang mewalan penjajah dalam agresi militer Belanda II di Donohudan, Boyolali.
Saat itu, Pak Min masih berumur 16-17 tahun. Dianggap belum dewasa, dia pun medapat tugas menjadi mata-mata Indonesia untuk mengawasi gerakan Belanda.
"Yang namanya penyamar itu ya enggak ada pangkatnya. Yang penting itu saya membela bangsa dan negara. Yang maha kuasa yang tahu," kata Ngatimin.