Namun, ucapan tersebut justru memicu hujan lemparan. Aparat kepolisian yang berada di lokasi terpaksa membentuk barikade untuk melindungi sang bupati dan mengamankannya ke lokasi yang lebih aman.
Seorang demonstran bernama Artanti (24) mengaku ikut aksi karena kecewa dengan pernyataan Sudewo yang dianggap menantang warga.
“Saya ikut demo karena pernyataan Pak Bupati Sudewo. Ya akhirnya ikut demo saja,” ujarnya.
Pernyataan kontroversial itu berisi tantangan kepada warga untuk datang berunjuk rasa jika tidak setuju dengan kebijakannya. Walaupun Sudewo telah meminta maaf beberapa hari sebelumnya, ribuan orang tetap memadati pusat Kota Pati sebagai bentuk protes dalam aksi demo besar-besaran.
Massa yang berasal dari berbagai elemen masyarakat membawa botol berisi air mineral, sandal hingga keranda jenazah. Keranda tersebut digunakan sebagai simbol “matinya demokrasi” di Pati akibat ucapan Sudewo yang dinilai menentang suara rakya