"Kebangsaan semu akan terjadi bila kebhinekaan hanya diwujudkan dengan keberagaman yang semu melalui acara-acara seremonial. Ini adalah nilai kebangsaan yang palsu, yang hanya sebatas etalase dan jargon," katanya.
La Nyalla menjelaskan, Pancasila memang karya luhur para pendiri bangsa yang luar biasa. Indonesia bersyukur bangsa ini telah bersepakat untuk tidak mengubah isi Pembukaan UUD yang di dalamnya terkandung Pancasila.
"Saya sering katakan di beberapa kesempatan, bahwa bila Pancasila kita terapkan dengan benar dan konsekuen, maka negara ini akan menjadi negara yang besar. Karena memang Pancasila adalah way of life yang paling tepat dan sesuai dengan DNA bangsa Indonesia," katanya.
Namun, bila Pancasila hanya dibacakan saja di upacara dan peringatan hari kelahirannya tanpa dibumikan, ini ibarat raga tanpa jiwa.
"Pancasila akan menjadi zombie alias walking dead. Apalagi jika kita lihat dan cermati isi amendemen konstitusi yang terjadi di tahun 1999 hingga 2002 silam. Kita telah mengubah banyak pasal, yang nyaris tidak nyambung lagi dengan nilai-nilai dan butir-butir Pancasila sebagai ideologi bangsa," katanya.
Mantan ketua umum PSSI ini menjelaskan, sejak amendemen UUD 1945 tersebut, Indonesia seolah melepaskan diri dari DNA asli bangsa ini. Karena suara atau pendapat hanya dihitung sebagai angka melalui voting di parlemen dan pemilu, bukan lagi ditimbang pikirannya.