Pengamat Politik Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komaruddin mengatakan, posisi Ganjar yang konsisten di urutan teratas kandidat capres potensial karena masyarakat menginginkan adanya figur pemimpin baru. "Ganjar ini mewakili figur baru yang selama ini diisi oleh figur lama capres-cawapres," kata Ujang, dikutip Jumat (1/1/2021).
Menurutnya, sebenarnya kalau dilihat dari peta pemerataan dukungan atau basis massa, Ganjar sebenarnya hanya kuat di Jawa Tengah saja. Padahal, kalau melihat jumlah penduduk, masih kalah dibandingkan Jawa Barat ataupun Jawa Timur. "Saya lebih melihat masyarakat ingin sosok baru capres-cawapres, dan Ganjar adalah salah satunya," katanya.
Faktor lain yang membuat nama Ganjar sejauh ini konsisten di urutan teratas sejumlah hasil survei, kata Ujang, bisa jadi Ganjar secara politik memang sudah berjalan jauh-jauh hari dalam konteks melakukan pencitraan sedangkan calon-calon lain belum.
"Itu juga akan berpengaruh karena pilpres itu bagaikan lari maraton, ada yang sudah start, ada yang belum, ada yang jalannya lambat, ada yang langsung lari kencang. Ada yang berhenti dulu, kemudian habis itu lari lagi, kemudian mencapai finish. Ini baru step awal dalam konteks pencapresan," katanya.
Ujang menilai, sebenarnya ketika melihat sejarah politik Ganjar, ada persoalan ketika namanya dikait-kaitkan dengan dugaan korupsi proyek e-KTP. "Nah ini juga kan menjadi persoalan sebenarnya. Jadi kalau publik itu melihatnya ringan-ringan saja, ingin melihat sosok baru di luar tokoh-tokoh mainstream sebelumnya," katanya.