Tidak mudah untuk meraih posisinya saat ini. Anak ketiga dari 5 bersaudara itu harus jatuh bangun untuk menjaga konsistensinya di dunia catur.
Terlahir sebagai disabilitas tunanetra, kehidupan Margaretha di Manik Saribu jauh dari kata layak. Ia hanya dibesarkan oleh ibunya yang berprofesi sebagai guru honorer.
Sedangkan, ayahnya pergi meninggalkannya karena tidak bisa menerima takdir bahwa Margaretha dan kedua adiknya terlahir sebagai tuna netra.
Keterlibatannya di cabor catur dimulai saat dirinya bersekolah di bangku TK Yayasan Tunanetra di bawah naungan gereja di Jerman yang ada di dekat rumahnya pada tahun 1996.
"Awalnya masih TK. Di sana kami dikasih pendidikan formal dan ekskulnya ya. Jadi ada banyak ada olahraga seni," katanya sembari mengingat.