Ketika penumpang dokarnya dirasa sudah cukup, Tarno memacu kereta kudanya menapaki jalanan aspal dari Paduraksa sampai Pasar Pagi Kota yang berjarak sekitar 6 kilometer.
"Sulit sekarang ndokar (narik dokar), sudah penumpang tak tentu, rumput dan bekatul buat pakan kudanya juga mahal," tuturnya.
Menurut Tarno, delman atau dokar di Pemalang Kota sekarang hanya tinggal beberapa unit saja. Mereka bertahan menjalankan profesi karena tak ada pilihan lagi.
"Tinggal beberapa saja, itu pun bingung karena tidak tahu mau kerja apa," ucapnya.