Sejak saat itulah pertempuran heroik berkecamuk. Beberapa tokoh penting yang memiliki peranan menggalang pemuda dan rakyat untuk bertempur antara lain Budancho Moenadi. Pria asal Pati yaang selanjutnya menjabat Gubernur Jateng ini pernah membawa dan mengumpulkan pasukan dari beberapa daerah seperti Pati, Demak, Kudus dan Purwodadi untuk merencanakan Serangan Umum Semarang untuk menyerang Jepang dari basis pertahanan di daerah Kaligawe.
Namun sayangnya ketika hendak menyerang dari Kampung Batik, Jepang telah mengetahui tanda-tanda serangan dan terlebih dahulu membakar Kampung Batik.
Meski kampung Batik dibakar, tak menyurutkan nyali pasukan pimpinan Moenadi. Pertempuran sengit pun terjadi di sekitar kampung Batik, Jalan Patimurra hingga Jalan dr Cipto. Dalam Pertempuran 5 Hari juga muncul pemuda mantan PETA bernama Sayuto dan Warno Keling menginisiasi regu Jagal Jepang.
Mereka berjuang bergerilya dari kampung ke kampung mencari jepang dan memenggal kepalanya sebagai upaya membalas dendam atas kebengisan mereka memenggali kepala pemuda yang ditangkapi Jepang. Kelompok Sayuto ini ada 20 orang dan yang masih hidup dan bisa ditemui bernama Huri Prasetyo (90).
Samurai yang digunakan Sayuto untuk memenggal leher Jepang pun masih disimpan Huri. Sayuto mengawali aksi balas dendamnya dengan menyerbu LP Mlaten yang dikuasai Jepang. Tampaknya hanya 3 Jepang yang berjaga dan ditemui. mereka diseret ke Gedung Sobokarrti yang ada di seberang LP Mlaten.