Wihaji juga memberikan motivasi kepada Afandi agar tidak putus asa. Semua penyakit ada obatnya dan semua masalah pasti ada solusinya.
Sementara Afandi menuturkan, penyakit mag kronis yang dideritanya selama 14 tahun membuatnya frustrasi. Seluruh hartanya sudah habis untuk berobat. Karena putus asa, sekitar akhir tahun 2017 lalu, ayah empat anak itu sempat membuat surat permohonan suntik mati atau eutanasia ke Kejari Batang dan Kejati Jateng. Permohonan suntik mati yang dikirimkan lewat pos itu hingga kini belum ada jawaban.
“Saya selalu merasa sakit di bagian perut, kadang kayak ditusuk-tusuk, disayat-sayat,” kata Afandi.
Empat tahun terakhir ini, dia tidak mau minum obat-obatan dari dokter. Dia hanya berobat ke alternatif sehingga kondisinya semakin menurun dan mengganggu psikisnya. Selama dia sakit, Afandi juga tidak bisa lagi mencari nafkah untuk keluarganya. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka hanya mengandalkan dari bantuan dan belas kasihan saudara serta tetangganya.
“Selama ini, enggak ada lagi yang mencari nafkah. Kami hidup dari belas kasihan tetangga dan saudara. Kadang ngasih beras, kadang ngasih duit,” kata Afandi.
Afandi berharap kepada pemerintah setempat untuk bisa membantu biaya pengobatannya dan meringankan beban hidup keluarganya yang semakin berat. Apalagi, saat ini dua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah masih membutuhkan biaya.