Bagi anak-anak, katanya, pneumonia bisa terjadi pada siapa saja, karena anak-anak merupakan salah satu kelompok yang berisiko tinggi terkena penyakit ini. Semua itu tentu tak lepas dari sistem kekebalan tubuh yang masih lemah. “Di sinilah peran seorang Ayah juga memiliki andil besar dalam mengambil keputusan dan panutan di keluarga,” katanya.
Sementara, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jateng Dr. dr. Fitri Hartanto, Sp.A(K) mengatakan, pneumonia begitu berbahaya karena menyerang saluran nafas. Proses penularannya pun bisa ditulari orang lain maupun ketika menghirup bahan berbahaya.
“Langkah pencegahannya tentu bisa dilakukan secara umum melalui ASI, makanan pendamping ASI dan perbaian gizi, serta pencegahan spesifik lewat vaksin imunisasi,” katanya.
Imunisasi pneumonia yang harus dilaksanakan sebanyak tiga kali dalam setahun, bisa menjadi barisan pertahanan bagi anak-anak untuk terhindar dari serangan bakteri maupun virus yang membuat anak terpapar pneumonia.
Selain imunisasi wajib, ada juga imunisasi pilihan yang dibutuhkan masyarakat, termasuk imunisasi pneumonia ini.
Menurut hasil Survey Sosial Demografi Dampak Covid19 di Provinsi Jawa Tengah tahun 2020 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng, tercatat sekitar 18,4% dari 10.570 responden warga di Jawa Tengah yang disurvei saat ini memiliki pendapatan rumah tangga di atas Rp4,8 juta. Dengan kemampuan ekonomi tersebut, artinya imunisasi pilihan seperti pneumonia pelaksanaannya memungkinkan dilakukan secara mandiri.