“Ada 3 skenario yang bisa dilakukan, pertama adalah strategi kuadran I yaitu dengan menaikkan laju karantina dan mempertahankan laju kontak dibawah angka 0.9, maka virus akan hilang sebelum 10 juni 2020. Yang kedua, kalau alpha dan beta berada pada garis miring maka virus hilang pada tgl 20 juni. Tapi jika laju kontak lebih besar daripada laju karantina maka virus masih menginfeksi Indonesia,” paparnya.
Karena itu, Sutanto meminta pemerintah harus segera melakukan rapid test untuk mengetahui individu yang terinfeksi dan yang sehat. Kemudian kelompok yang terinfeksi tersebut dipisahkan ke rumah sakit rujukan atau wisma atlet Kemayoran untuk kemudian diisolasi dan yang sehat dibatasi pergerakkannya. Sehingga bisa memperbesar laju Alpha.
Kemudian langkah selanjutnya yaitu menekan orang yang masih sehat untuk tetap di rumah sehingga bisa menekan laju Beta.
“Jika Beta sebesar 0.5, dalam simulasi ini maka virus akan hilang sebelum 10 Juni 2020, jika tidak kita akan berada di kuadran II dan ini kondisi yang sangat berbahaya. Tidak perlu berdebat, kita harus bekerja dan segera pilih Kuadran I ini lebih cepat, ekonomi juga akan tetap baik, dunia medis juga tidak akan capek,” ujar Sutanto.
Dia menambahkan, saat ini tingkat kematian pasien yang terinfeksi Covid-19 sudah cukup tinggi yaitu sekitar 8,4%, bahkan sempat menyentuh angka 9%.
“Artinya orang yang sehat, hidup damai tibat-tiba terinfeksi tetapi yang bersangkutan tidak mengetahui kalua dirinya terjangkit covid-19. Yang bersangkutan menyadari sudah terlambat, yaitu tatkala gejala atau sakit yang dirasakan sudah parah sehingga meninggal,” kata Sutanto.