“Upacara ngasa digelar setiap tahun sebagai upaya melestarikan tradisi para leluhur. Ritual ini sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat adat Jalawastu atas hasil bumi. Karena memang warga setempat mayoritas sebagai petani,” kata Kades Ciseuruh, Darsono, Rabu (1/3/2023).
Dalam ritual ngasa, seorang tetua adat atau kakolot membacakan mantera di gedong pesarean. Kemudian dilanjutkan pembacaan doa sebagai bentuk syukur atas hasil bumi yang mereka nikmati. Usai berdoa ritual diakhiri dengan makan bersama dengan menu nasi jagung dan sayur-sayuran.
Sejarawan Pantura Wijanarko mengatakan pengaruh Sunda Wiwitan yang masih dipertahankan adalah penggunaan bahasa sunda di kampung Jalawastu. Warga setempat masih bergantung pada alam dan mereka sangat menjaga alam sebagai sumber penghidupan.
“Berdasarkan sejarahnya Sunda Wiwitan berasal dari Jalawastu. Setelah masuknya islam warga yang menolak memilih pindah ke berbagai daerah termasuk ke badui,” kata Wijanarko.
“Pengaruh Sunda Wiwitan ini bisa dilihat dari pemakaian bahasa Sunda. Ketaatan mereka menjaga alam dan tidak berani melanggar pantangan,” ujarnya.