Kedai lunpia ini sudah berusia ratusan tahun yang dikelola empat generasi secara turun temurun. Bahkan karena lamanya berdiri, pemilik kedai saat ini tidak mengetahui persis tahun berdirinya. Kini pengelolaan sudah bersiap untuk diwariskan kepada generasi kelima.
Pengunjung datang silih berganti sejak kedai lunpia dibuka mulai pukul 08.00 WIB hingga tutup pukul 05.00 WIB. Selama masa pandemi Covid-19, layanan makan di tempat ditiadakan. Kini hanya melayani take away atau dibawa pulang.
Hanya ada satu varian rasa yang dipertahankan sejak dulu hingga sekarang. Yakni campuran rebung, udang, dan telur untuk menjaga keasliannya. Semua masih dibuat dengan cara tradisional. Ukuran lunpia cukup besar dengan isian yang padat. Bagi yang tak suka amis, jangan khawatir karena keunggulan lunpia tertua ini memiliki racikan khusus.
“Menjaga kebersihan, teknik penggulungan, hingga penggorengan menjadi faktor penting menjaga kualitas lunpia,” kata Vincent Setiawan Usodo, generasi kelima lunpia gang Lombok.
Harga lunpia dibanderol Rp18.000 per biji. Juga tersedia lunpia basah dan goreng dengan harga sama. Untuk yang basah bisa bertahan 1 jam, sedangkan yang goreng selam 24 jam. Sehingga cocok sebagai oleh-oleh ke luar kota.