Asal usul kuliner lumpia Semarang memiliki cerita yang istimewa, di mana pada abad ke-19, terdapat sebuah pasangan suami istri dengan latar belakang etnis Tionghoa dan Jawa yang menikah. Mereka menjadi pionir dalam mendirikan berbagai kedai penjualan lumpia di Kota Semarang.
Pada zaman dahulu, Semarang memiliki peran yang penting dalam jalur perdagangan. Sejak masa kerajaan Hindu-Buddha, Semarang menjadi tujuan yang sering dikunjungi berbagai kelompok etnis, terutama etnis Tionghoa yang mendominasi dibandingkan dengan etnis lainnya yang datang ke daerah tersebut.
Lumpia memiliki peran kunci dalam membantu etnis Tionghoa beradaptasi dan menjalani kehidupan mereka di wilayah Jawa. Selama masa Orde Baru, masyarakat Tionghoa mengalami pembatasan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk aktivitas politik dan ibadah.
Akan tetapi, industri lumpia tetap bertahan hingga saat ini sebagai salah satu simbol ketahanan budaya mereka.
Lumpia Semarang Gang Lombok mengandalkan bahan pokok berupa rebung yang dicampur dengan udang dan telur. Semua bahan ini dibungkus dalam kulit lumpia hingga membentuk silinder panjang. Hampir semua komponen dalam lumpia, seperti rebung, udang, dan lokio, memiliki kandungan nutrisi yang tinggi.