SEMARANG, iNews.id - Akulturasi budayaJawa-Tionghoa menciptakan Lumpia Semarang, salah satu makanan khas Semarang, Jawa Tengah, provinsi yang pernah dipimpin Ganjar Pranowo. Saat Calon Presiden Ganjar Pranowo menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah, dia merupakan salah satu yang berperan penting dalam memperkuat hubungan sejarah di daerah yang telah ada sejak dahulu.
Capres Ganjar yang berpasangan dengan Mahfud MD bahkan pernah melakukan sebuah diskusi terkait dengan budayawan di Jawa Tengah untuk mengembangkan budaya yang ada. Agama apa pun dapat menjadi sarana akulturasi budaya, mendorong toleransi di antara individu.
Ganjar menunjukkan dia secara konsisten mendorong toleransi dan harmoni antara berbagai komunitas agama melalui beragam tindakan, kebijakan dan program yang telah diimplementasikan.
Akulturasi budaya Jawa-Tionghoa mengilhami kelahiran Lumpia Semarang, makanan khas yang tak terpisahkan dari identitas kuliner Semarang. Lumpia Semarang bukan sekadar makanan, melainkan juga sebuah cerminan indah dari perpaduan budaya yang memenuhi lidah dan menyentuh hati.
Lumpia Semarang merupakan makanan khas Kota Semarang yang mencerminkan akulturasi budaya antara Jawa dan Tionghoa. Asal usul namanya berasal dari penggabungan kata "lun," yang berarti gulung dalam Bahasa Jawa dengan "pia," yang berarti kue dalam Bahasa Hokkien. Pada tahun 2014, Lumpia Semarang diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.