Selama Ki Hajar bertapa, Nyai Selakanta sabar menunggu kedatangan suaminya. Hari demi hari, minggu ke minggu, bulan demi bulan. Namun sang suami tak kunjung datang, dan hati Nyai Selakanta pun risau mengapa suaminya tak kunjung balik dari pertapaannya selama berbulan-bulan.
Hingga suatu hari, Nyai Selakanta merasakan mual yang sangat hebat. Siang dan malam ia selalu merasa pusing dan mual tak henti-henti. Dan kemudian ia menyadari bahwa ia sedang mengandung anak.
Ia sangat merasa gembira dengan realita tersebut. Hari demi hari , ia merasa perutnya semakin besar, dan tibalah ia melahirkan seorang anak dari dalam rahimnya. Ia sangat terkejut, karena bayi yang dikandungnya bukanlah seorang manusia , melainkan dalam wujud bayi naga.
Baru Klinthing
Anak dari Nyai Selakanta waktu itu dinamakan yakni Baru Klinthing. Dia juga malu dengan warga karena melahirkan seekor naga. Nyai Selakanta berencana membawa Baru Klinthing ke Gunung Telomoyo agar jauh dari warga, dan tidak menghina anaknya yang memiliki fisik tidak sempurna.
Baru Klinthing remaja muda yang penasaran dengan sosok ayahnya, pergi ke gua di Gunung Telomoyo untuk menemui ayahnya yang sedang bertapa. Dan ibunya menitipkan pusaka tombak pada Baru Klinthing untuk diberikan pada ayahnya.