Soegiarin layak dinobatkan sebagai pahlawan karena jasa-jasanya. Namun menurut Soegiarno (92) adik Soegiarin, kakaknya selama hidup tak pernah menuntut penghargaan dalam melaksanakan tugas pengabdiannya kepada negara.
"Mas Gik (panggilan Soegiarin) justru senang berusaha sendiri dan selepas pensiun ingin mendirikan pabrik kertas. Namun sayangnya kala itu selalu ada yang merintangi karena disangkutkan hal politik,” kata Soegiarno, Kamis (12/8/2021).
“Kami ini keluarga marhaen, nasionalis yang tentunya di era Orde Baru dianggap pengikut fanatik Bung Karno sehingga terimbas pada kebijakan politik era itu. Jadi kami seolah tidak diberi hak berkembang," katanya.
Pada makam Soegiarin terpampang prasasti bertuliskan "Di Sini Dimakamkan Markonis Soegiarin, Penyiar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia". Tulisan tersebut kata Soegiarno, berawal hanya untuk pengingat keluarga yang acap kali menziarahi makam.
Namun oleh Danramil 13 Semarang Selatan, Mayor Inf Rahmatullah AR justru dibuat lebih bagus dengan batu granit hitam bertuliskan emas.