Jalan tengah pun diusulkan, kedua belah pihak harus dituruti. Di mana peresmian masjid diawali dengan salat Jumat berjamaah bagi seluruh umat Islam yang sempat meramaikan. Setelah itu baru diadakan tontonan wayang di halaman masjid sebagai alat dakwah.
Namun aliran Giri tetap menolak usulan itu. Lantas Sunan Kalijaga mengusulkan kepada sidang para wali bahwa gambar wayang itu harus diubah sedemikian rupa, sehingga seperti wayang kulit yang kita lihat zaman sekarang ini.
Wayang kulit ini diubah oleh Sunan Kalijaga menjadi wayang kulit pada zaman Demak. Wayang beber menjadi istilah dari wayang kulit yang dicetuskan oleh Sunan Kalijaga pada tahun 1437 sebagaimana diambil dari buku "Kawruh Asali pun Ringgit" karangan R. M. Mangkudimeja.
Setelah semuanya disepakati, maka diresmikanlah Masjid Agung Demak itu dengan dimulai salat Jumat berjamaah. Kemudian setelah itu baru diadakan keramaian tontonan wayang kulit. Di mana Sunan Kalijaga-lah yang tampil sebagai dalangnya.