"Kita sebagai perempuan harus mandiri, juga harus independen karena kita enggak akan tahu ke depannya akan ada masalah apa yang mengharuskan kita buat stand up sendiri, buat ngebantu masalah itu sendiri," kata Rahma.
Perempuan berusia 20 tahun ini pun bertekad membuktikan bahwa perempuan juga bisa bersaing di dunia industri dan memberikan pengaruh besar. Meski sempat dilarang orang tuanya untuk berkarier di kota besar, Rahma memberanikan diri dan membuktikan dirinya mampu hingga mendapatkan dukungan dari orang tuanya.
"Pekerjaan di bidang teknologi ini umumnya berada di kota-kota besar. Saya tiba-tiba izin kerja di Jakarta, dulu sempet ada cekcok sama orang tua, nanti kamu sama siapa kalau sakit di sana sendirian, tapi setelah diyakini kerja di Jakarta tuh enggak seserem yang dibayangin, akhirnya orang tua setuju, ngebolehin dan sampai sekarang masih didukung," katanya.
Dia mengatakan, seiring dengan teknologi yang kian update dan berkembang, ada kebanggaan tersendiri saat membuat aplikasi dan berguna untuk orang lain. Dia mengaku terinspirasi dari salah satu komunitas pegiat perempuan, yaitu Girl Support.
"Terinspirasi dari Girl Support, saya ingin mengangkat dari lingkungan terkecil, terutama di Kudus. Visinya biar tidak ada lagi stereotip dan banyak perempuan yang berani dan bangkit membantu orang lain di sekitar kita dan membantu perempuan lain untuk bisa maju dan berkembang,” kata Rahma, dikutip dari laman Kemendikbud.
Sementara CEO Clapping Ape Bobby Pranoto mengungkapkan, Rahma merupakan lulusan SMK yang mampu bersanding dan tidak kalah dengan lulusan S-1 yang mempunyai kompetensi di bidang teknologi. Rahma juga satu-satunya perempuan di timnya.
"Rahma ini punya drive yang kuat, yang bisa membuat feedback. Rahma juga memiliki technical skill yang oke, passion yang juga oke," ujar Bobby. Demikian kisah inpiratif Rahma Agustina, lulusan SMK Kudus yang sukses jadi perancang perangkat lunak.