"Kenapa jaraknya (rilis) lumayan lama, dua tahun. Pengennya setelah rilis itu saya bisa main di kota-kota lain, mungkin di beberapa acara musik. Cuma waktu itu kan Pandemi, dan sementara main offline dulu di banyak kota. Akhirnya baru tahun ini bisa rilis lagi," katanya.
“Bumi nangis pada diduduki Wiwit daratan tekan lautan. Den kuras rojo branane Kamongko kabeh iku Dadi srono raketing bumi. Yen kabeh dikeduki ringkih buminipun Banjir bandang, bumi longsor Lindu prakempa tekan sunami...sunami Gunung jebluk...muntah lahar.”
Kata-kata tersebut merupakan penggalan lirik lagu yang baru dirilis. Sebagai anak bangsa yang cinta terhadap tanah airnya, Bunga Bangsa memiliki misi untuk melestarikan budaya, bahasa dan musik tradisional di Indonesia. Sehingga, dia masih menggunakan bahasa jawa sebagai lirik dalam single terbarunya.
Selain itu beberapa alat musik tradisional Indonesia seperti gamelan, seruling, kecapi dan kendang dibalut apik dalam kesatuan utuh dalam komposisinya. Bebarengan dengan musik khas Bunga Bangsa yang modern dan bergenre Proggressive Metal.
"Prahara Rusaking jagad bercerita tentang peristiwa rusaknya bumi akibat ulah manusia yang memanfaatkan Bumi secara berlebihan dan menggunakannya untuk kepentingan pribadi dan golongannya tanpa memikirkan dampak panjang terhadap keberlangsungan seluruh mahluk hidup di Bumi," katanya.