Di sisi lain, Raja Bhanu yang disebutkan dalam prasasti Plumpungan belum dapat diketahui hubungannya dengan Kerajaan Mataram. Para peneliti menyatakan bahwa seseorang yang mendirikan bangunan suci merupakan seorang bangsawan.
Informasi lain yang disampaikan melalui prasasti Plumpungan menunjukkan adanya komunitas Buddha di Salatiga. Lebih dari itu, masyarakat Salatiga juga telah mengenal organisasi kemasyarakatan dalam bentuk kerajaan, meskipun wilayah Salatiga bukan merupakan pusat kerajaan.
Kenapa dinamakan Kota Salatiga, juga diperkirakan berasal dari perkembangan nama Dewi yang disebutkan dalam prasasti Plumpungan, yaitu Siddhadewi. Siddhadewi dikenal dengan nama Dewi Trisala. Nama Trisala kemudian dilestarikan di tempat dewi ini dipuja. Lokasi tersebut dinamakan Tri-Sala, yang berdasarkan kaidah hukum bahasa bisa berbalik menjadi Sala-tri atau Salatiga.
Kenapa dinamakan Kota Salatiga, ternyata juga ada cerita rakyat yang menjadi latar belakangnya. Konon, nama Salatiga tak lepas dari kisah Ki Ageng Pandanaran yang merupakan Bupati Semarang, Pangeran Mangkubumi dengan gelar Sunan Bayat atau Sunan Tembayat.
Ki Ageng Pandanaran merupakan seorang pedagang yang kaya raya. Namun seiring berjalannya waktu, ia sibuk memperkaya dirinya sendiri, sampai melupakan kesejahteraan dan keamanan rakyatnya. Sunan Kalijaga merupakan penasehat Sultan Demak kemudian berupaya mengingatkan Ki Ageng Pandanaran.