Seperti yang dialami Ahmad Wahid, petani di Kendal. Dia mengaku tidak pernah pusing dan khawatir kekurangan air. “Pasokan dari embung melimpah, sehingga hampir sepanjang tahun terus bercocok tanam tidak mengenal musim kemarau,” ujar Wahid.
Dia bahkan menanam bawang merah dan mentimun yang membutuhkan air dalam jumlah banyak. “ Saya tidak khawatir akan kekurangan, malah mentimum yang ditanam sudah mulai dipanen. Sementara tanaman bawang merah tinggal panen saja,” ujarnya.
Sementara Kepala Desa Sojomerto, Ridu Rimbawanto mengatakan embung yang dibangun 2016 ini sangat membantu petani untuk mendapatkan pasokan air di musim kemarau. Disaat saluran irigasi sekitar mulai kering, petani di desanya tetap mendapatkan pasokan air untuk tanamannya.
“Pemerintah Desa Sojomerto ke depan akan terus mengoptimalkan keberadaan embung dengan mengalokasikan anggaran pembelian mesin pompa, sehingga air dari embung dengan kapasitas tampungan 8.029 meter kubik ini lebih banyak dimanfaatkan petani yang jaraknya jauh dari embungSojomerto,” jelasnya.
Dia menyebut salah satu kunci keberhasilan optimalisasi embung ini adalah keterlibatan aktif komunitas. Warga setempat membentuk kelompok kerja bakti untuk merawat embung, mengorganisir kampanye penyuluhan dan menggalang dana untuk perbaikan embung. Kolaborasi antarwarga telah menjadi landasan kesuksesan inisiatif ini.