Dalam Menari 24 Jam Nonstop ini, Sri Hadi menampilkan, dua karya tarian berjudul Suluk Bisma dan Sastra Jiwangga. Tarian Suluk Bisma ini terinspirasi dari jalan hidup Sang Bisma, sementara Sastra Jiwangga diadaptasi dari serat Jaman Edan milik Ranggawarsita.
"Durasi masing-masing tarian adalah 15-20 menit. Sisanya saya menari sesuai dengan konsep yang telah disiapkan oleh panitia hingga selesai 24 jam," ujarnya.
Selain lima penari inti yang secara terus menerus menari selama 24 jam nonstop ini, kemeriahan Hari Tari se-Dunia ini pun dimeriahkan puluhan penari yang datang dari berbagai daerah.
Salah satunya dari Keraton Kasunanan Solo yang kembali ikut dalam event internasional ini. Sebanyak sembilan penari yang tergabung dalam Sanggar Pawiyatan Kabudayan Keraton Solo yang dipimpin GRAy Koes Moertiyah menampilkan tarian Bedaya Sukomulya.
Tarian Bedaya Sukomulya ini diciptakan putri Raja Keraton Kasunanan Solo Paku Buwono XII. Tarian ini sengaja diciptakan GRAy Koes Moertiyah atau biasa dipanggil Gusti Mung untuk Pisungsung ayahandanya Hingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono XII, pada saat ulang tahun ke 80 atau tumbuk dalem 10 Windu.