"Tapi semangat istri saya itulah mendorong semangat saya. "Awak dewe ora duwe sangu Yo Ben. Niate ibadah, pengen selamat dunia akhirat (kita tidak punya uang ya tidak apa-apa. Niat ibadah, Ingin selamat dunia akhirat)," ucap Harto mengulang semangat yang selalu diberikan sang istri pada dirinya.
Apalagi dirinya teringat akan anak keduanya yang meninggal dunia usai di wisuda. Karena itulah dirinya ingin sekali mendoakan almarhum putranya dari tanah suci.
"Saya punya anak dua. Yang kecil meninggal karena kecelakaan usai diwisuda tahun 2006. Sedangkan yang satu sudah menikah, cucu saya dua," katanya.
Harto menceritakan, meskipun masa penantian selama 9 tahun (sejak awal mendaftar di tahun 2011), tertunda karena Pandemi Corona, dirinya tidak pernah mimpi berangkat ke tanah suci. Meskipun satu kali dirinya pernah bermimpi dibangunkan dari tidurnya oleh sosok orang tua.
"Kalau sampai terbawa mimpi untuk segera berangkat, tidak pernah. Tapi saya pernah bermimpi seperti dibangunkan sama sosok laki-laki tua. Laki-laki tua itu ngomongnya gini 'leh tangio, siap-siap' terus saja jawab 'inggih mbah kulo nyuwun pengestunipun'' dan terbangun dari tidur," ujarnya.