"Hal inilah mengapa salah satunya (prosesi ruwatan) kami ubah menjadi hari kedua, sehingga diharapkan pemangku adat bisa melihat situasi kondisi karena minimal pelarungan bisa dilaksanakan pada kegiatan DCF, apabila terjadi kemacetan, pemangku adat bisa melarungnya pada keesokan harinya," katanya.
Selain ruwatan anak-anak berambut gimbal, sejumlah acara dalam rangkaian kegiatan DCF XIII pun mengalami pergeseran waktu pelaksanaannya.
Bahkan, banyak pula acara yang pelaksanaannya digeser ke hari pertama dengan harapan wisatawan bisa benar-benar maksimal berada di Dieng.
"Karena kami berpikir pada dampak ganda yang diharapkan dari kunjungan wisatawan seandainya mereka bisa menginap full dua malam, maka perputaran ekonomi di masyarakat bisa bangkit," kata Alif.