Sisanya adalah calon baptis (Saijo, Saijan, Jaino, Maino, Sayem, Marsinah, Minem, Soni dan Sanem). Mereka berdoa selama sembilan hari berturut-turut pada jam yang sama dan dengan cara yang sama pula.
Selama berdoa mereka mengenakan rosario, gambar Bunda Maria dan obor berbentuk salib dengan lima buah sumbu yang menyala. Obor itu melambangkan penderitaan Tuhan Yesus di Kayu Salib.
Gambar Bunda Maria dilukis oleh H Sutarno pada selembar kertas padalarang. Doa Rosario Sembilan Hari itu di mulai tanggal 22 April 1957 di rumah Petrus Suhirman di Dusun Ngampohan pada pukul 19.00 WIB.
Mereka berarak menuju Dhanyangan Growong dengan urutan sebagai berikut: gambar Bunda Maria, obor, para calon baptis, umat yang telah dibaptis dan Petrus Suhirman sebagai pemimpin.
Setibanya di gua, mereka memanjatkan doa dengan ujub untuk mengusir makhluk halus. Para peserta juga diberikan kesempatan untuk menyampaikan doa spontan. Seusai doa, mereka kembali berarak sambil berdoa Rosario menuju kediaman Petrus Suhirman.