Dia optimistis dengan mesin pompa yang ada bisa mempercepat surutnya banjir yang menggenangi areal persawahan, terutama di Desa Kirig dan Setrokalangan yang sudah lebih dahulu ditangani. Sementara desa lainnya menyusul menunggu giliran.
Sementara Camat Mejobo Aan Fitriyanto menjelaskan, luas areal tanaman padi di Kecamatan Mejobo mencapai 902 hektare. Sementara luas genangan di areal 470 hektare. Genangan banjir paling parah, yakni di Desa Kirig, disusul Payaman, Temulus dan Mejobo dengan luas areal lahan bervariasi.
"Jika pompanisasi untuk menyedot air banjir di Desa Kirig hasilnya efektif, tentunya bisa dilanjutkan ke desa lannya," ujarnya.
Salah seorang petani asal Desa Kirig, Sutrisno, mengaku berterima kasih karena dibantu pompanisasi. Jika tidak ada bantuan tersebut, dipastikan genangan banjir baru bisa surut hingga beberapa bulan lagi karena daerahnya memang cekungan.
Dengan bantuan enam unit pompa mesin penyedot genangan yang dimulai Senin (22/2/2020) ini, dia optimistis dalam waktu dua tiga hari genangan banjir bisa surut sehingga April 2021 bisa mulai tanam kembali.
"Saya memang belum tanam karena sejak Desember 2020 sawah saya seluas satu hektare sudah tergenang banjir," ujarnya.
Jika tidak ada penyedotan air genangan, dia memprediksi baru bisa tanam pada bulan Agustus 2021. Sebab, dari pengalaman sebelumnya, banjir memang lama surut.