"Iya, kalau hujan deras saya yakin air dan lumpur yang berasal dari lokasi tambang itu pasti akan memasuki area penduduk. Karena lokasi tambang itu berada di atas permukiman warga," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Cagar Budaya Nasional Pojok Gunung Kekenceng (Kota Hiroshima-2) Sukabumi, Tedi Ginanjar menjelaskan, lokasi Gunung Manglayang yang rencananya akan dilakukan eksploitasi oleh perusahaan tambang itu berada di wilayah Desa Selawangi Kecamatan Sukaraja, Desa Cipurut dan Desa Tegalpanjang Kecamatan Cireunghas Kabupaten Sukabumi.
"Warga menuai protes dan menolak rencana pembongkaran itu, karena kawasan Gunung Manglayang tersebut berada di alur patahan aktif Sesar Cimandiri yang saat ini sedang dalam pengawasan intensif oleh BMKG dan Badan Geologi. Iya, karena akhir-akhir ini sering terjadi gempa bumi yang cukup besar di sekitaran alur sesar tersebut," ujar Tedi kepada wartawan.
Lebih lanjut Tedi mengatakan, di sekitar kawasan Gunung Manglayang terdapat banyak sebaran tinggalan arkeologi yang telah diobservasi oleh Balai Arkeologi Jawa Barat. Bahkan, telah terbit laporan penelitiannya yaitu berupa tinggalan arkeologi Kawasan Kota Hiroshima 2 berupa peninggalan bersejarah zaman penjajahan Jepang yang sebarannya meliputi kampung Bandang, Kampung Pojok hingga ke anak Gunung Manglayang.
"Di Gunung Manglayang itu, ada tinggalan arkeologi berupa Pasarean Eyang Dalem Saringsingan, Sarkofagus atau peti mati dari batu, Batu Lingga berdiameter 0,5 meter dan tingginya sekitar 1 meter, Meja Batu Besar, Batu Kujang dan sebagainya, yang telah diobservasi oleh Balai Arkeologi Jawa Barat dan sebagian lagi masih dalam tahap pengkajian," ujar Tedi.