Selain itu bilangan 20 merefleksikan unsur anatomi tubuh manusia. Sedangkan bilangan 2 mengacu pada pengertian bahwa kehidupan siang dan malam, suka duka, baik buruk dan sebagainya.
Dalam Upacara Seren Taun yang menjadi objek utama adalah padi, lantaran padi dianggap sebagai lambang kemakmuran. Karena daerah Cigugur khususnya, daerah Sunda lain umumnya, merupakan daerah pertanian, dengan berbagai kisah klasik tatar Sunda, seperti Losah Pwah Aci Sahyang Asri yang memberikan kesuburan bagi petani sebagai utusan dari Jabaning Langut yang turun ke bumi.
Upacara Seren Taun juga menuturkan kembali kisah-kisah klasik pantun Sunda yang bercerita tentang perjalanan Pwah Aci Sahyang Asri.
Pwah Aci atau yang lebih dikenal dengan Dewi Sri merupakan tokoh yang telah melegenda dan memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat agraris khususnya tatar Sunda. Tari Pwah Aci merupakan salah satu seni tari spiritual, yang di dalamnya tersirat ungkapan rasa hormat dan bhakti kepada Sang Pemberi Hidup melalui gerak dan ekspresi.
Upacara Seren Taun tidak jarang menampilkan Damar Sewu, gelaran budaya yang mengawali rangkaian upacara adat Seren Taun Cigugur, yang menggambarkan perjalanan manusia dalam proses kehidupan baik secara pribadi maupun sosial.
Kemudian tari buyung, tarian adat Sunda yang mencerminkan masyarakat Sunda dalam mengambil air. Terakhir pesta dadung yang merupakan upacara sakral masyarakat di Mayasih, di mana dalam pesta dadung terdapat upaya meruwat dan menjaga keseimbangan alam agar hama dan unsur negatif tidak menggangu kehidupan manusia.
Dilihat dari sisi budaya, upacara adat Seren Taun yang sudah berjalan sejak puluhan tahun silam di Kabupaten Kuningan ini dapat menjadi salah satu destinasi wisata, karena saat penyelenggaran mampu menarik banyak wisatawan domestik maupun mancanegara. (CM)