Menurut Abah Ujang, tradisi lokal itu digelar di puncak Gunung Batu karena memiliki histori dan untuk menghormati para leluhur. Terkait pemotongan seekor kambing berwarna hitam, hal itu dipercaya dapat menjadi penolak bala.
"Memotong kambing, filosofinya sebagai permintaan keberkahan bagi warga, keselamatan, khususnya untuk warga Langensari dan umumnya semuanya," ujar Abah Ujang.
Gunung Batu sebagai lokasi kegiatan, tutur Abah Ujang, diyakini merupakan tempat berkumpulnya para Pangangung yang disebut para dalem atau petinggi. Hal itu ditandai dengan keberadaan dua makam keramat atau petilasan, yang tertulis atas nama Embah Mangkunagara yang dulunya sebagai kepala negara dan Embang Jambrong yang menjadi wakilnya.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) KBB Heri Partomo mengaku sangat mendukung upaya masyarakat dalam melestarikan budaya lokal. Ke depan, Disparbud KBB akan menggali potensi budaya di masyarakat.
"Kami sangat mendukung kegiatan seperti ini, dan akan berkomunikasi dengan kepala desa, sesepuh adat, untuk menggali budaya yang ada di wilayahnya," tutur Kadisparbud KBB.