"Video parodi yang kami bikin, tujuannya untuk edukasi agar masyarakat taat terhadap aturan lalu lintas. Bukan untuk membuat malu atau apa, tapi murni untuk mengedukasi masyarakat. Dan hasilnya luar biasa, seiring waktu masyarakat semakin tersadarkan," katanya.
Diakuinya, tak semua video parodi edukatif yang dipublikasikan di medsos direspons positif oleh pelanggar. Pernah satu waktu, pelanggar tersebut mengirim pengacara, yang intinya keberatan dan meminta agar video itu dihapus dari medsos.
"Ya kami tidak masalah menghapus video itu, selama pengendara sudah paham atas kesalahannya dan mau membuat surat pernyataan tak mengulangi lagi. Karena tujuan kami adalah mengedukasi, jadi pesannya sudah tersampaikan," kata dia.
Kendati dilengkapi dengan beberapa pelataran canggih, tetap saja banyak tantangan yang mesti dihadapi para operator ACTS. Seperti diakui salah seorang operator Widia Soviani. Terkadang walaupun sudah memberi imbauan melalui pengeras suara, tetap saja ada pengendara yang bandel. Bahkan terkadang mereka sampai mengangkat jari tengah (fuck), ke kamera CCTV.
"Tapi kami tidak kehilangan akal. Terkadang kami meminta pengendara di sebelahnya untuk menegur. Atau kami bikin teguran lucu, sehingga pengendara yang melakukan kesalahan tertawa, dan mengikuti imbauan kami," ucap Widia.
Namun satu hal yang membuatnya bangga bekerja di ATCS adalah tanggung jawab besar atas pekerjaan yang dipikulnya. Dia bersama operator lainnya memiliki kendali atas lalu lintas di Bandung. Bahkan, mereka sering mambantu perjalanan para pejabat negara hingga membantu mengungkap pencurian kendaraan dan mencegah terjadinya huru hara geng motor.